Islam dan Ilmu
Tujuan utama manusia diciptakan oleh Allah swt adalah untuk beribadah kepada-Nya. Allah SWT berfirman:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ (٥٦)
Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (Adz-Dzariyat : 56)
Untuk beribadah kepada Allah manusia memerlukan banyak factor yang harus terpenuhi. Syarat utama agar ibadah diterima oleh Allah ada dua, yaitu ikhlas karena Allah dan sesuai dengan apa yang telah dituntunkan dalam al quran dan hadits. Jika salah satu dari kedua syarat tersebut tidak terpenuhi, maka ibadah akan menjadi sia-sia. Jika syarat pertama, yaitu ikhlas tidak ada maka ibadah akan tertolak, karena semua ibadah hanya diniatkan karena Allah, hak untuk diibadahi merupakan hak perogratif Allah. Jika ibadah ditujukan kepada selain Allah, maka hal itu termasuk syirik, yakni menyekutukan Allah, salah satu contohnya adalah beribadah karena ingin dilihat manusia atau biasa disebut riya. Jika syarat yang kedua yang tidak terpenuhi, yakni sesuai dengan tuntunan, maka ibadah juga akan tertolak. Suatu ibadah yang tidak dituntunkan merupakan bid’ah, dan semua bid’ah itu tertolak. Rasulullah SAW bersabda:
”Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah firman Allah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan seburuk-buruk perkara adalah yang dibuat-buat dan setiap bid’ah itu sesat.” (HR. Muslim, no.867)
Dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Barangsiapa yang mengamalkan satu amalan yang dibuat-buat dalam ajaran kami (agama) padahal amalan itu bukan berasal dari agama ini, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Bukhari – Muslim)
Untuk menghindari tidak tercapainya syarat kedua, maka manusia perlu ilmu dalam beribadah, yakni ilmu dalam pelaksanaan ibadah seperti ilmu tatacara sholat, wudhu, puasa, haji, dan amalan-amalan sunnah lainnya. Wilayah yang paling rentan oleh ibadah-ibadah bidah adalah wilayah ibadah sunnah. Ada segolongan orang yang senang meracik ibadah sendiri dan menganggapnya sunnah. Padahal, ibadah merupakan perkara yang telah digariskan.
Tugas manusia selain untuk beribadah kepada Allah adalah sebagai khalifah di bumi. Kedua tugas tersebut sangat berkesinambungan. Untuk beribadah kepada Allah, manusia perlu media untuk tetap survive. Contoh mudahnya, bagaimana seseorang bisa beribadah ketika perutnya kosong, bagaimana seseorang bisa melaksanakan ibadah haji jika tidak memiliki media untuk melaksanakannya. Oleh karena itu, manusia juga diamanahi untuk menjadi khalifah di bumi. Tugas manusia sebagai khalifah juga dihitung sebagai ibadah. Definisi khalifah adalah pengolah, yakni mengolah segala sesuatu yang ada di bumi menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat. Manusia telah dikaruniai oleh Allah udara, air, dataran, tumbuh-tumbuhan, tambang,dll. Manusia bertugas untuk mengolah itu semua menjadi hal yang lebih bermanfaat. Untuk bisa melaksanakan tugas ini, manusia memerlukan ilmu, yang oleh Rasulullah SAW dinamakan ilmu dunia. Untuk hal ini, Rasulullah saw bersabda,”Kalian lebih berkompeten di bidang ini dari pada saya.” Asbabul wurud dari hadits ini adalah, suatu saat ada dua sahabat rasulullah yang menanam pohon. Salah satu sahabat tersebut bertanya kepada Rasulullah SAW mengapa pohon milik sahabatnya berbuah lebih bagus dari pada pohon miliknya yang mana tatacara penanamannya diajari oleh Rasulullah SAW, kemudian Rasulullah SAW menyuruh sahabat tersebut untuk mengikuti tatacara menanam sahabat yang buahnya lebih bagus tersebut dan bersabda, ”Kalian lebih berkompeten di bidang ini (dunia) dari pada saya.” Hadits ini merupakan dalil bahwa kita dibolehkan utuk menuntut ilmu dunia kepada semua orang yang berkompeten, termasuk kepada orang kafir.
Salah satu contoh dari aplikasi ini adalah ibadah haji. Umat islam di Indonesia memerlukan pesawat untuk bisa melaksanakan ibadah haji. Nah, pesawat merupakan hasil olah pikiran manusia. Allah telah mengaruniai manusia logam dan udara. Manusia mempelajari sifat-sifatnya, mulai dari sifat udara, sifat logam, prilaku logam dalam kecepatan tinggi, prilaku logam terhadap udara, panas, dan tekanan rendah, serta mempelajari iklim wilayah yang akan dilalui, dan akhirnya muncullah pesawat dan rute-rute terbangnya yang telah teratur.
Akan tetapi sangat disayangkan sekali, sangat sedikit umat islam yang berkeinginan mempelajari ilmu-ilmu tersebut. Kebanyakan dari mereka hanya cukup mempelajari ilmu agama. Ilmu agama memang penting, bahkan wajib untuk dipelajari. Namun, ilmu dunia juga penting untuk dipelajari. Suatu bangsa bisa maju dan menguasai dunia ketika ilmu pengetahuan ada dalam genggamanya. Pada zaman keemasan umat islam, umat islam menguasai banyak sekali ilmu pengetahuan, ilmu kedokteran, ilmu astronomi, ilmu matematika, ilmu bedah, dan ilmu-ilmu lainnya. Sekarang barat yang menguasai ilmu pemgetahuan, sehingga sekarang baratlah yang berkuasa. Jika ingin mengangkat Islam kembali jaya, maka salah satunya adalah dengan mempelajari ilmu dunia. Dan Alhamdulillah, pemerintah Saudi telah membangun suatu pusat ilmu pengetahuan yang dijuluki Daarul Hikmah II yang nama resminya adalah King Abdullah University of Science. Daarul Hikmah merupakan pusat ilmu pengetahuan yang didirikan pada zaman khalifah Hakim bin Amrullah al-Fatimi (395 H/1005 M). Khalifah menjadikan Darul Hikmah sebagai suatu akademi yang sejajar dengan lembaga pendidikan di Cordoba atau Baghdad. Untuk itu, khalifah menyediakan dana yang besar untuk memperbanyak manuskrip (naskah bukan cetakan) atau memperbaiki buku-buku. Anggaran belanjanya tidak kurang dari 257 dinar per tahun. Sehingga perpustakaan ini dilengkapi dengan 40 lemari yang satu di antaranya memuat 18.000 buku tentang ilmu-ilmu kuno yang belum pernah dihimpun oleh seorang raja pun. Pengunjung dibuat nyaman dengan keindahan dan keteraturan isi gedung perpustakaan ini. Lantainya diberi tikar permadani lengkap dengan tata rias yang cantik. Di pintu-pintu dan lorong-lorongnya dipasang gorden. Pengunjung juga dimanjakan dengan pelayanan sepenuh hati dari para pegawainya. Bahkan al-Hakim menggaji para ahli fikih, ahli nahwu, ahli bahasa dan sastra, ahli mantik, ahli berhitung, dokter-dokter ahli pengobatan, ahli matematika, dan ahli astronomi untuk berdiskusi dan menjawab pertanyaan para pengunjung. Semua ahli ilmu tersebut meskipun spesialisasinya di ilmu alam, mereka juga paham islam secara kaffah dan tidak sedikit yang hafal al quran. Itulah gambaran kemajuan ilmu pengetahuan pada zaman keemasan islam, sangat jauh sekali dengan kondisi ilmu pengetahuan pada zaman sekarang. Semoga umat islam mulai terketuk hatinya untuk kembali mempelajari ilmu-ilmu alam, dan muncul ilmuwan-ilmuwan yang memahami islam secara kaffah serta hafal Al Quran, sehingga ilmu yang mereka miliki bermanfaat dan mendapatkan barakah dari Allah SWT.

<-- Visitor map -->

