وَلا تَجْعَلْ يَدَكَ مَغْلُولَةً إِلَى عُنُقِكَ وَلا تَبْسُطْهَا كُلَّ الْبَسْطِ فَتَقْعُدَ مَلُومًا مَحْسُورًا (٢٩)إِنَّ رَبَّكَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ إِنَّهُ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيرًا بَصِيرًا (٣٠)

Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya[852] karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal. (30). Sesungguhnya Tuhanmu melapangkan rezki kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya; Sesungguhnya Dia Maha mengetahui lagi Maha melihat akan hamba-hamba-Nya.(Al Isro’ 29-30)

[852] Maksudnya: jangan kamu terlalu kikir, dan jangan pula terlalu Pemurah.

 

Perlu kita sadari bahwa hakikatnya segala sesuatu yang kita manfaatkan saat ini adalah titipan Alloh swt. Tanah pekarangan, sawah, motor, rumah, villa, mobil, dan harta lainnya yang dapat kita manfaatkan, itu semua adalah dari titipan Alloh swt. Oleh karena itu, hendaknya kita bijaksana dalam memanfaatkan titipan Alloh swt tersebut. Manusia yang tidak menyadari akan hal ini menganggap bahwasanya rezki itu adalah hasil kerja kerasnya sendiri tanpa ada campur tangan Alloh SWT. Perilaku ini digambarkan oleh Allah SWT ketika menceritakan tentang kesombongan Karun. Alloh swt berfirman:

قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَى عِلْمٍ عِنْدِي أَوَلَمْ يَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ قَدْ أَهْلَكَ مِنْ قَبْلِهِ مِنَ الْقُرُونِ مَنْ هُوَ أَشَدُّ مِنْهُ قُوَّةً وَأَكْثَرُ جَمْعًا وَلا يُسْأَلُ عَنْ ذُنُوبِهِمُ الْمُجْرِمُونَ (٧٨)

Karun berkata: "Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku". dan Apakah ia tidak mengetahui, bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu, tentang dosa-dosa mereka. (Al qoshosh: 78)

Kenikmatan yang Alloh swt berikan kepada kita ini hendaknya kita syukuri dengan sebaik-baiknya. Jangan sampai kenikmatan tersebut membuat kita terlena, sehingga kita mengabaikan kehidupan akhirat. Salah satu cara mensyukuri nikmat Alloh swt adalah dengan meng-infaq-kannya di jalan Alloh swt. Banyak dalil yang memerintahkan kita untuk berinfaq. Alloh swt berfirman:

قُلْ لِعِبَادِيَ الَّذِينَ آمَنُوا يُقِيمُوا الصَّلاةَ وَيُنْفِقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلانِيَةً مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ يَوْمٌ لا بَيْعٌ فِيهِ وَلا خِلالٌ (٣١)

Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku yang telah beriman: "Hendaklah mereka mendirikan shalat, menafkahkan sebahagian rezki yang Kami berikan kepada mereka secara sembunyi ataupun terang-terangan sebelum datang hari (kiamat) yang pada bari itu tidak ada jual beli dan persahabatan)Ibrohim: 31)

وَأَنْفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ وَأَحْسِنُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (١٩٥)

Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.(Al Baqoroh:195)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِمَّا رَزَقْنَاكُمْ

 

Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezki yang telah Kami berikan kepadamu (Al Baqoroh:254)

$yg•ƒr’¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#þqãZtB#uä (#qà)ÏÿRr& `ÏB ÏM»t6ÍhŠsÛ $tB óOçFö;|¡Ÿ2 !$£JÏBur $oYô_t÷zr& Nä3s9 z`ÏiB ÇÚö‘F{$# …

Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu….(Al Baqoroh:267)

Pada dasarnya semua manusia menyenangi kekayaan dan harta benda. Bahkan kadangkala karena mengejar harta, didominasi hawa nafsu dan bisikan syaitan ada manusia yang sampai rela membunuh, merampok, korupsi bahkan memutuskan silaturrahim. Padahal sesungguhnya harta dunia tidak akan membawa arti apa-apa jika tidak dimanfaatkan ke jalan yang diridhai Alloh. Rasululloh saw pernah menerangkan tentang harta.

عن أبي هريرة أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال يقول العبد مالي مالي إنما له من ماله ثلاث ما أكل فأفنى أو لبس فأبلى أو أعطى فَاقْتَنىَ وما سوى ذلك فهو ذاهب وتاركه للناس

Dari Abu Huroiroh ra. Rasululloh saw bersabda: Manusia berkata,”hartaku, hartaku”, sesungguhnya harta itu ada tiga, harta yang ia makan kemudian ia habiskan, harta yang ia gunakan kemudian usang, dan harta yang ia sedekahkan lalu ia miliki, selain itu akan lenyap, ia tinggalkan untuk ahli warisnya.(HR. Muslim. Hadits no 5258)

Hadits tersebut menjelaskan bahwa harta itu ada tiga jenis.

1.       Harta yang habis dikonsumsi, seperti makanan. Makanan akan habis ketika kita makan..

2.       Harta yang rusak terpakai. Seperti pakaian yang kita gunakan.Seberapa mahal harga pakaian yang kita beli nanti akhirnya akan usang juga dan ujung-ujungnya menjadi kain gombal.

3.       Harta yang kita sedekahkan. Inilah harga kita yang sebenarnya. Harta yang dapat kita manfaatkan ketika di akhirat nanti. Ini adalah deposito akhirat kita.

Harta jenis pertama dan kedua hanya bermanfaat di dunia dan akhirnya akan lenyap. Adapun harta tipe ketiga, yakni harta yang dishodaqohkan, inilah harta hakiki kita.

Setiap orang pasti lebih memperhatikan harta pribadinya daripada harta orang lain. Misalkan kita memikili kendaraan, tentu kita akan lebih memperhatikan kendaraan kita dari pada kendaraan orang lain. Jika kendaraan kita kotor karena hujan, langsung kita cuci dengan sepenuh hati. Namun ketika yang kotor itu kendaraan pinjaman, rasanya agak berat mencucikan kendaraan pinjaman tersebut.

Sama halnya dengan harta kita. Harta yang sekarang kita pegang seperti uang, mobil, rumah, tanah pekarangan, dll pada hakikatnya belum sepenuhnya milik kita. Karena ketika kita mati, kita tidak akan membawa harta tersebut. Setelah kita mati mobil, rumah, tanah pekarangan, dan harta-harta lainnya akan dimanfaatkan oleh ahli waris. Harta kita yang sesungguhnya adalah harta yang kita infaqkan di jalan Alloh swt. Sangat disayangkan jika kita sangat memperhatikan harta yang belum tentu milik kita, tetapi mengabaikan harta kita sendiri untuk kehidupan akhirat. Bukankah Alloh swt berfirman:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati…(Ali Imron: 185)

Tujuan kita beribadah adalah untuk mendapatkan ridho-Nya. Oleh karena itu, semua ibadah yang kita lakukan, hendaknya kita niatkan untuk Alloh swt. Alloh swt berfirman,

قُلْ إِنَّ صَلاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (١٦٢)

Katakanlah: Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.(Al An’am:162)

Ayat tersebut dapat kita pahami bahwa segala perbuatan yang kita lakukan hendaknya diniatkan karena Alloh swt.


Begitu pula berinfaq di jalan Alloh, hendaknya kita berinfaq hanya karena Alloh swt. Kita berinfaq karena memang infaq adalah kepentingan dan kebutuhan kita. Infaq merupakan harta kita yang sebenarnya yang nanti di akan berguna ketika di akhirat kelak. Jangan sampai kita bersedekah karena urusan duniawi. Saya sangat heran dengan statement seseorang pada sebuah jejaring sosial yang intinya mengatahan bahwa, “dia tidak lulus ujian karena kurang sedekah”. Kemudian di jejaring sosial yang sama, terdapat grup bernama “Gerakan Cinta Sedekah” dan dalam grup itu terdapat tulisan, “Lulus ujian nasional dengan nilai baik karena sedekah”.

Jika memang tujuannya ingin lulus ujian ya seharusnya ia belajar dengan tekun, bukan memperbanyak sedekah. Tidak ada gunanya sedekah banyak-banyak tapi tidak belajar sama sekali.

Di lain sisi, ada pula yang bersedekah dengan motivasi bahwa harta yang ia sedekahkan akan kembali berlipat ganda. Mungkin sebagian dari kita sudah tidak asing lagi dengan istilah kaya dengan shodaqoh. Sehingga motivasi dia bershodaqoh adalah agar cepat menjadi kaya. Betapa pendeknya rencana berpikir jika tujuan bershodaqoh hanya untuk kepentingan duniawi.

Kita tentu lebih mengutamakan hal-hal yang sudah pasti daripada yang tidak pasti. Kehidupan di akhirat adalah sebuah kepastian, kita semua pasti mati dan pasti akan menjalani kehidupan di akhirat.

Adapun lulus Ujian Nasional, itu belum pasti. Ingat, kematian sangatlah dekat, bahkan mungkin lebih dekat dari kita menjalani ujian nasional, diterima di universitas favorit, mendapatkan gelar sarjana, menjadi seorang insinyur atau dokter, memenangkan sebuah proyek, atau mimpi-mimpi dunia yang lainnya…

Karena kita tidak tahu kapan kita dipangil oleh Alloh swt, hendaknya apapun yang kita lakukan, kita niatkan karena Alloh swt untuk mencari ridho-Nya untuk mencari bekal kehidupan di akhirat kelak, termasuk dalam hal berinfaq.