Islamic Blog

June 10, 2009

Mendaki Gunung Slamet

Filed under: Uncategorized


Tanggal 27 Mei 2006 merupakan tanggal yang tidak terlupakan. Hari itu adalah hari pertama saya liburan, yakni liburan sebagai santri kelas 3 MTs. Sebagai santri kelas tiga MTs merupakan pengalaman yang sangat hebat. Inilah pertama kali kami merasa bebas dari peraturan pondok dan OP, karena liburan kelas 3 MTs lebih awal dari santri yang lain. Pada saat seluruh santri memasukkan pakaiannya ketika keluar kamar, kami tidak memasukkan pakaian. Ketika semua santri harus bersilat lidah dengan ustadz untuk mendapatkan izin keluar komplek, kami dengan mudah melewati gerbang tanpa hambatan. Itu hanyalah segelintir kenangan semasa akhir kelas 3 Mts. Masih ada kenangan lain selain itu, yakni mendaki gunung slamet.

Beberapa hari sebelum liburan kelas 3 MTs, aku diajak beberapa temanku untuk mendaki gunung slamet. Aku bingung ikut atau tidak. Karena menurut berita yang aku dengar, gunung slamet memiliki cerita mistik, selain itu guning slamet merupakan gunung tertinggi di Jawa tengah.

Pagi hari tanggal 27 mei 2006. Aku sedang berada di asrama Kapatra 2  bercanda dengan teman-temanku, karena barangkali ini adalah kumpul-kumpul terakhir sebelum pulang ke rumah masing-masing. Sebagian dari kami masih belum tahu apakan ingin melanjutkan studi kami di Assalaam, atau keluar.  Setelah ngobrol aku pulang ke rumah. Setelah menyelesaikan keperluan di rumah, aku pun ke asrama. Di tengah perjalanan dari rumah menuju asrama serasa ada yang ganjil. Bumi serasa bergoyang, rumah-rumah ustadz dan rayon satu seperti ada yang menggoyangkan, begitu pula puhon-pohon. Aku tetap berjalan meskipun serasa seperti diombang-ambing. Gempa berlangsung cukup lama, sekitar satu menit. Setelah sampai di asrama aku langsung menuju ke lantai tiga. Disana tampak gunung merapi mengeluarkan asap putih. Setelah dari asrama aku jalan-jalan muter-muter pondok ngaa’ ada tujuan. Melewati kantor kesantrian rayon 1, aku  melihat banyak santri yang menyaksikan TV di kantor. Ternyata gempa yang barusan bukan lindu (gempa karena aktivitas gunung), tapi gempa yang berasal dari laut selatan. Dari kantor kesantrian aku jalan-jalan lagi tanpa arah. Di tengah jalan aku berpapasan dengan temanku dan diajak lagi tuk mendaki gunung. Tawaran naik gunung yang kedua ini aku pikir-pikir lagi. Akhirnya setelah minta izin sama ortu, aku positif berangkat.

Setelah mendapatkan green lamp dari ortu aku langsung menyiapkan peralatan naik gunung. Karena mendadak, waktu persiapannya sangat mepet sehigga aku membawa peralatan seadanya. Aku hanya membawa peralatan wajib, yakni jaket, dan sleeping bag. Aku juga membawa kaos ganti. Karena mepet aku tidak sempat untuk membawa makanan. Setelah siap, aku langsung menuju ke kapatra 1. Disana ust. Maulud dan beberapa teman telah menunggu. Setelah semuanya berkumpul aku dan teman-temanku berangkat ke stasiun Jebres. Sesampainya di stasiun, kami melihat banyak sekali pelajar yang bermain-main di stasiun. Mereka bermain bola di antara rel satu dengan rel yang lainnya. Ada juga yang bermain di rerumputan stasiun. Di salah satu jalur rel terdapat kereta yang cukup panjang berhenti. Setelah mencaritahu ternyata pelajar-pelajar tersebut ingin berlibur ke Jogja. Akan tetapi karena tadi pagi ada gempa, jalur wisata ke Jogja ditutup. Ada kabar bahwa rel kereta ada yang rusak. Mendengar berita itu aku dan teman-temanku sempat gelisah. Kami takut kalau kereta yang menuju Purwokerto dibatalkan. Akan tetapi, kegelisahan kami sirna ketika ust. Maulud telah bertanya kepada pihak stasiun dan mengabarkan bahwa kereta yang menuju purwokerto tetap akan diberangkatkan. Karena kedatangan kereta masih lama, kami menjama’ dhuhur dan ashar di musholla stasiun. Setelah sholat kami keluar stasuin untuk mencari warung tuk makan siang. Setelah makan siang kami menunggu di stasiuh hingga kereta datang. Akhirnya kereta yang kita tunggu-tunggu pun datang. Kereta itu bernama kereta logawa. Kereta datang dari arah timur, dan sudah mengangkut penumpang. Kami agak kesulitan mencari tempat duduk untuk kami bertujuh. Setelah mencari-cari akhrnya kami mendapatkan tempat duduk yang cukup tuk kita bertujuh.

 

Suasana di Kereta Logawa 

 

Kereta berjalan dengan lambat. Sesekali kereta berhenti. Kami pikir itu masih wajar karena masih di wilayah solo dan belum melewati stasiun balapan. Setelah melwati stasiun balapan, kereta berjalan dengan kecepatan normal. Sesampainya di tengah sawah, kereta melambat dan akhirnya berhenti. Setelah beberapa menit kereta berjalan lagi. Selang beberapa menit kereta berhenti lagi. Kereta berjalan seperti itu karena ada beberapa bagian rel yang rusak, sehingga pemakaian rel di gilir antara kereta satu dengan yang lainnya. Pemandangan selama naik kereta sangat memilukan. Gempa tadi pagi yang kami kira gempa biasa ternyata menimbulkan kerugian yang cukup banyak. Selama perjalanan di kanan-kiri tampak rumah-rumah rubuh. Ada satu kampung yang bangunannya rubuh semua, yang tersisa tinggal puing-puing. Ada juga stasiun yang hancur total, sehingga waktu kereta berhenti, tidak tampak kalau reruntuhan itu adalah stasiun. Langit mulai memerah, semakin masuk wilayah jogja, pemandangan tampak semakin memilukan. Tampak di kanan-kiri jalur kereta Kereta masyarakat membuat tenda pengungsian dengan terpal. Terpal diikatkan pada pepohonan. Para warga berkumpul-kumpul dibawah terpal. Ada juga truk yang disulap menjadi rumah. Bagian  atas bak truk di tutupi terpal.Meskipun ada beberapa bangunan rumah yang tidak roboh, mereka masih khawatir kalau tiba-tiba gempa melanda lagi. Ketika kereta berhenti ada sebagian penumpang yang menyempatkan diri untuk turun dan mengambil gambar. Ada yang menggunakan tustel biasa, kamere digital, bahkan HP pun digunakan untuk mengabadikan pemandangan ini. Matahari telah tenggelam. Kota jogja bagaikan kota mati. Tidak ada penerangan satupun. Tenda-tenda pengungsian di sisi rel kereta masih tampak. Akan tetapi pemandangan tampak berbeda 180 derajat ketika kereta melewati tengah kota. Kondisi kota tidak meunjukkan adanya bencana. Gedung-gedung tetap berkilau, mobil-mobil berseliweran di jalanan. Warga seperti beraktivitas seperti biasa. Kereta berjalan normal ketika telah melewati stasiun Kutoarjo. (bersambung…)






















<-- Visitor map -->
Fase Bulan Saat Ini:

Foto Matahari Saat ini:

Foto Matahari Saat ini:

MDI Continum:

Locations of visitors to this page -->

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Minz Meyer

rus