Kehidupan jalanan memang penuh dengan pelajaran. Ketika saya bepergian terkadang saya melihat beberapa penjual makanan di tepi jalan. Bagi saya penjual makan di tepi jalan adalah hal biasa. Namun akhir-akhir ini saya melihat sesuatu yang luar biasa. Beberapa kali saya melihat penjual makanan tersebut adalah remaja belia. Saya taksir umurnya sekitar 15-18 tahunan, yah kalau mereka sekolah kira-kira mereka duduk di bangku kelas IX atau kelas X. Dan penjual makanan belia tersebut bukan hanya di satu tempat, namun di beberapa tempat yang berbeda. Ada yang jualan batagor, jualan kue goreng, atau makanan lainnya. Bayangkan pemuda belia mendorong gerobak batagor dan melayani penjual. Nampak postur tubuhnya tidak sepadan dengan gerobaknnya. Saya sangat kagum dengan mereka. Mereka masih muda dan memiliki daya juang tinggi. Mereka memiliki semangat untuk mencari rizki dengan cara yang baik dan halal. Saya sangat mengapresiasi mereka. Saya bangga dengan mereka. Mereka berbeda dengan sebagian remaja saat ini yang menghabiskan waktu mudanya untuk hal yang kurang bermanfaat.
Sangat disayangkan, sebagian dari pemuda yang dikaruniai kelapangan rizki tidak menggunakannya dengan maksimal, malah bahkan bisa dikatakan menyalah-gunakannya. Banyak indikasi menunjukkan mereka kurang maksimal memanfaaatkan karunia ini, diantaranya semangat belajar kurang, tidak mau bersusah payah, mudah mengadu ketika menemui hal yang tidak sesuai dengan harapan, dan lain-lain. Mungkin karena fasilitas kehidupan terpenuhi, mereka mengganggap bahwa hidup ini mudah, tidak perlu perjuangan, karena semua sudah biasa tersedia didepan mata.
Pada saat ini sudah bukan pemandangan aneh lagi ketika kita melihat anak-anak sekolah merokok. Saya heran, sudah jelas bahwa rokok itu berbahaya bagi tubuh. Tapi mengapa mereka yang notabene orang berpendidikan (karena bersekolah) tetap tidak memahami bahaya rokok. Selain itu untuk membeli rokok tentu membutuhkan uang. Padahal mereka belum tentu bisa mencari uang, sehingga uang untuk membeli rokok tersebut adalah uang pemberian orang tua, bukan uang yang mereka hasilkan dari keringat mereka sendiri. Terlepas itu uang hasil keringa mereka atau pemberian orang tua, merokok merupakan pemborosan yang luar biasa. Apalagi bagi perokok berat. Bukankah lebih baik jika pengeluaran untuk rokok dialihkan untuk pengeluaran yang lainnya yang lebih bermanfaat.
Fakta lain, sudah menjadi pemandangan umum di sekolah dan kampus, pelajar dan mahasiswa saling berlomba berganti-gantian berburu merk dan keluaran terbaru Ponsel dan Tablet. Mereka saling melirik dan meniru apa yang tergenggam di tangan masing - masing, meskipun kebanyakan diantaranya belum berpenghasilan dan hanya mengandalkan keuangan orang tuanya. BlackBerry Bellagio, Samsung Galaxy S II, IPad 2, HTC Radar, Nexian Tap, IPhone 4S, Nokia Asha 303, Motorola Razr menjadi pembicaraan hebat mereka.
Saya sangat prihatin dengan gaya hidup sebagian remaja sekarang ini. Pergaulan mereka seperti tidak terkontrol. Pacaran sudah menjadi hal yang lumrah. Menghabiskan waktu di mall, berkumpul di food court atau tongkrongan lain bersama kelompok mereka dengan membawa “pasangan” mereka. Saya sangat tidak suka dengan pemandangan seperti itu. Enak saja mereka bersenang-senang, padahal uang yang mereka gunakan untuk bersenang-senang adalah uang pemberian orang tua, bukan uang dari penghasilan mereka sendiri.
Remaja yang menyalahgunakan amanah tersebut seharusnya malu. Mereka belum mampu apa-apa tapi sudah berlagak sok. Mereka belum dapat menghasilkan uang sendiri, namun mereka berlagak berduit. Menurut saya mereka lebih rendah derajatnya daripada pemuda penjual makanan. Pemuda penjual makanan tersebut sudah dapat mencari nafkan meskipun mungkin pas-pasan. Sedangkan mereka, mereka belum bisa apa-apa namun berlagak sok.
Alhamdulillah sebagian dari kita dikaruniai oleh Alloh swt kelapangan rizki lewat orang tua kita. Dengan kelapangan rizki tersebut kita dapat menuntut ilmu dengan maksimal.Kita dapat menikmati bangku sekolah. Seharusnya kita mensyukuri karunia Alloh swt tersebut. Salah satu cara mensyukuri karunia tersebut adalah memanfaatkan karunia tersebut dengan sebaik-baiknya. Berusaha semaksimal mungkin mengembangkan diri di saat back up dari orang tua masih tersedia.
Seharusnya kita merasa malu jika tidak memberikan yang terbaik bagi orang tua kita. Beliau lah yang selalu mendukung kita. Kita dapat dikatakan sebagai orang yang tidak amanah jika orang tua kita telah mengamanahi kita untuk belajar dan menyediakan segala fasilitas untuk belajar namun kita tidak menggunakannya dengan sebaik-baiknya. Oleh karena itu marilah kita syukuri karunia Alloh swt ini, salah satu caranya adalah menjalankan amanah orang tua untuk belajar dengan sebaik-baiknya sehinga kita dapat mengisi hidup ini dengan hal-hal baik yang dapat berguna bagi kehidupan di dunia dan akhirat.

