Catatanku, PengalamanJanuary 11, 2012 7:29 pm


Kehidupan jalanan memang penuh dengan pelajaran. Ketika saya bepergian terkadang saya melihat beberapa penjual makanan di tepi jalan. Bagi saya penjual makan di tepi jalan adalah hal biasa. Namun akhir-akhir ini saya melihat sesuatu yang luar biasa. Beberapa kali saya melihat penjual makanan tersebut adalah remaja belia. Saya taksir umurnya sekitar 15-18 tahunan, yah kalau mereka sekolah kira-kira mereka duduk di bangku kelas IX atau kelas X. Dan penjual makanan belia tersebut bukan hanya di satu tempat, namun di beberapa tempat yang berbeda. Ada yang jualan batagor, jualan kue goreng, atau makanan lainnya. Bayangkan pemuda belia mendorong gerobak batagor dan melayani penjual. Nampak postur tubuhnya tidak sepadan dengan gerobaknnya. Saya sangat kagum dengan mereka. Mereka masih muda dan memiliki daya juang tinggi. Mereka memiliki semangat untuk mencari rizki dengan cara yang baik dan halal. Saya sangat mengapresiasi mereka. Saya bangga dengan mereka. Mereka berbeda dengan sebagian remaja saat ini yang menghabiskan waktu mudanya untuk hal yang kurang bermanfaat.

Sangat disayangkan, sebagian dari pemuda yang dikaruniai kelapangan rizki tidak menggunakannya dengan maksimal, malah bahkan bisa dikatakan menyalah-gunakannya. Banyak indikasi menunjukkan mereka kurang maksimal memanfaaatkan karunia ini, diantaranya semangat belajar kurang, tidak mau bersusah payah, mudah mengadu ketika menemui hal yang tidak sesuai dengan harapan, dan lain-lain. Mungkin karena fasilitas kehidupan terpenuhi, mereka mengganggap bahwa hidup ini mudah, tidak perlu perjuangan, karena semua sudah biasa tersedia didepan mata.

Pada saat ini sudah bukan pemandangan aneh lagi ketika kita melihat anak-anak sekolah merokok. Saya heran, sudah jelas bahwa rokok itu berbahaya bagi tubuh. Tapi mengapa mereka yang notabene orang berpendidikan (karena bersekolah) tetap tidak memahami bahaya rokok. Selain itu untuk membeli rokok tentu membutuhkan uang. Padahal mereka belum tentu bisa mencari uang, sehingga uang untuk membeli rokok tersebut adalah uang pemberian orang tua, bukan uang yang mereka hasilkan dari keringat mereka sendiri. Terlepas itu uang hasil keringa mereka atau pemberian orang tua, merokok merupakan pemborosan yang luar biasa. Apalagi bagi perokok berat. Bukankah lebih baik jika pengeluaran untuk rokok dialihkan untuk pengeluaran yang lainnya yang lebih bermanfaat.

Fakta lain, sudah menjadi pemandangan umum di sekolah dan kampus, pelajar dan mahasiswa saling berlomba berganti-gantian berburu merk dan keluaran terbaru Ponsel dan Tablet. Mereka saling melirik dan meniru apa yang tergenggam di tangan masing - masing, meskipun kebanyakan diantaranya belum berpenghasilan dan hanya mengandalkan keuangan orang tuanya. BlackBerry Bellagio, Samsung Galaxy S II, IPad 2, HTC Radar, Nexian Tap, IPhone 4S, Nokia Asha 303, Motorola Razr menjadi pembicaraan hebat mereka.

Saya sangat prihatin dengan gaya hidup sebagian remaja sekarang ini. Pergaulan mereka seperti tidak terkontrol. Pacaran sudah menjadi hal yang lumrah. Menghabiskan waktu di mall, berkumpul di food court atau tongkrongan lain bersama kelompok mereka dengan membawa “pasangan” mereka. Saya sangat tidak suka dengan pemandangan seperti itu. Enak saja mereka bersenang-senang, padahal uang yang mereka gunakan untuk bersenang-senang adalah uang pemberian orang tua, bukan uang dari penghasilan mereka sendiri.

Remaja yang menyalahgunakan amanah tersebut seharusnya malu. Mereka belum mampu apa-apa tapi sudah berlagak sok. Mereka belum dapat menghasilkan uang sendiri, namun mereka berlagak berduit. Menurut saya mereka lebih rendah derajatnya daripada pemuda penjual makanan. Pemuda penjual makanan tersebut sudah dapat mencari nafkan meskipun mungkin pas-pasan. Sedangkan mereka, mereka belum bisa apa-apa namun berlagak sok.

Alhamdulillah sebagian dari kita dikaruniai oleh Alloh swt kelapangan rizki lewat orang tua kita. Dengan kelapangan rizki tersebut kita dapat menuntut ilmu dengan maksimal.Kita dapat menikmati bangku sekolah. Seharusnya kita mensyukuri karunia Alloh swt tersebut. Salah satu cara mensyukuri karunia tersebut adalah memanfaatkan karunia tersebut dengan sebaik-baiknya. Berusaha semaksimal mungkin mengembangkan diri di saat back up dari orang tua masih tersedia.

Seharusnya kita merasa malu jika tidak memberikan yang terbaik bagi orang tua kita. Beliau lah yang selalu mendukung kita. Kita dapat dikatakan sebagai orang yang tidak amanah jika orang tua kita telah mengamanahi kita untuk belajar dan menyediakan segala fasilitas untuk belajar namun kita tidak menggunakannya dengan sebaik-baiknya. Oleh karena itu marilah kita syukuri karunia Alloh swt ini, salah satu caranya adalah menjalankan amanah orang tua untuk belajar dengan sebaik-baiknya sehinga kita dapat mengisi hidup ini dengan hal-hal baik yang dapat berguna bagi kehidupan di dunia dan akhirat.

Quran, CatatankuJanuary 2, 2012 12:56 am


وَلا تَجْعَلْ يَدَكَ مَغْلُولَةً إِلَى عُنُقِكَ وَلا تَبْسُطْهَا كُلَّ الْبَسْطِ فَتَقْعُدَ مَلُومًا مَحْسُورًا (٢٩)إِنَّ رَبَّكَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ إِنَّهُ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيرًا بَصِيرًا (٣٠)

Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya[852] karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal. (30). Sesungguhnya Tuhanmu melapangkan rezki kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya; Sesungguhnya Dia Maha mengetahui lagi Maha melihat akan hamba-hamba-Nya.(Al Isro’ 29-30)

[852] Maksudnya: jangan kamu terlalu kikir, dan jangan pula terlalu Pemurah.

 

Perlu kita sadari bahwa hakikatnya segala sesuatu yang kita manfaatkan saat ini adalah titipan Alloh swt. Tanah pekarangan, sawah, motor, rumah, villa, mobil, dan harta lainnya yang dapat kita manfaatkan, itu semua adalah dari titipan Alloh swt. Oleh karena itu, hendaknya kita bijaksana dalam memanfaatkan titipan Alloh swt tersebut. Manusia yang tidak menyadari akan hal ini menganggap bahwasanya rezki itu adalah hasil kerja kerasnya sendiri tanpa ada campur tangan Alloh SWT. Perilaku ini digambarkan oleh Allah SWT ketika menceritakan tentang kesombongan Karun. Alloh swt berfirman:

قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَى عِلْمٍ عِنْدِي أَوَلَمْ يَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ قَدْ أَهْلَكَ مِنْ قَبْلِهِ مِنَ الْقُرُونِ مَنْ هُوَ أَشَدُّ مِنْهُ قُوَّةً وَأَكْثَرُ جَمْعًا وَلا يُسْأَلُ عَنْ ذُنُوبِهِمُ الْمُجْرِمُونَ (٧٨)

Karun berkata: "Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku". dan Apakah ia tidak mengetahui, bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu, tentang dosa-dosa mereka. (Al qoshosh: 78)

Kenikmatan yang Alloh swt berikan kepada kita ini hendaknya kita syukuri dengan sebaik-baiknya. Jangan sampai kenikmatan tersebut membuat kita terlena, sehingga kita mengabaikan kehidupan akhirat. Salah satu cara mensyukuri nikmat Alloh swt adalah dengan meng-infaq-kannya di jalan Alloh swt. Banyak dalil yang memerintahkan kita untuk berinfaq. Alloh swt berfirman:

قُلْ لِعِبَادِيَ الَّذِينَ آمَنُوا يُقِيمُوا الصَّلاةَ وَيُنْفِقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلانِيَةً مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ يَوْمٌ لا بَيْعٌ فِيهِ وَلا خِلالٌ (٣١)

Katakanlah kepada hamba-hamba-Ku yang telah beriman: "Hendaklah mereka mendirikan shalat, menafkahkan sebahagian rezki yang Kami berikan kepada mereka secara sembunyi ataupun terang-terangan sebelum datang hari (kiamat) yang pada bari itu tidak ada jual beli dan persahabatan)Ibrohim: 31)

وَأَنْفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ وَأَحْسِنُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (١٩٥)

Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.(Al Baqoroh:195)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِمَّا رَزَقْنَاكُمْ

 

Hai orang-orang yang beriman, belanjakanlah (di jalan Allah) sebagian dari rezki yang telah Kami berikan kepadamu (Al Baqoroh:254)

$yg•ƒr’¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#þqãZtB#uä (#qà)ÏÿRr& `ÏB ÏM»t6ÍhŠsÛ $tB óOçFö;|¡Ÿ2 !$£JÏBur $oYô_t÷zr& Nä3s9 z`ÏiB ÇÚö‘F{$# …

Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu….(Al Baqoroh:267)

Pada dasarnya semua manusia menyenangi kekayaan dan harta benda. Bahkan kadangkala karena mengejar harta, didominasi hawa nafsu dan bisikan syaitan ada manusia yang sampai rela membunuh, merampok, korupsi bahkan memutuskan silaturrahim. Padahal sesungguhnya harta dunia tidak akan membawa arti apa-apa jika tidak dimanfaatkan ke jalan yang diridhai Alloh. Rasululloh saw pernah menerangkan tentang harta.

عن أبي هريرة أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال يقول العبد مالي مالي إنما له من ماله ثلاث ما أكل فأفنى أو لبس فأبلى أو أعطى فَاقْتَنىَ وما سوى ذلك فهو ذاهب وتاركه للناس

Dari Abu Huroiroh ra. Rasululloh saw bersabda: Manusia berkata,”hartaku, hartaku”, sesungguhnya harta itu ada tiga, harta yang ia makan kemudian ia habiskan, harta yang ia gunakan kemudian usang, dan harta yang ia sedekahkan lalu ia miliki, selain itu akan lenyap, ia tinggalkan untuk ahli warisnya.(HR. Muslim. Hadits no 5258)

Hadits tersebut menjelaskan bahwa harta itu ada tiga jenis.

1.       Harta yang habis dikonsumsi, seperti makanan. Makanan akan habis ketika kita makan..

2.       Harta yang rusak terpakai. Seperti pakaian yang kita gunakan.Seberapa mahal harga pakaian yang kita beli nanti akhirnya akan usang juga dan ujung-ujungnya menjadi kain gombal.

3.       Harta yang kita sedekahkan. Inilah harga kita yang sebenarnya. Harta yang dapat kita manfaatkan ketika di akhirat nanti. Ini adalah deposito akhirat kita.

Harta jenis pertama dan kedua hanya bermanfaat di dunia dan akhirnya akan lenyap. Adapun harta tipe ketiga, yakni harta yang dishodaqohkan, inilah harta hakiki kita.

Setiap orang pasti lebih memperhatikan harta pribadinya daripada harta orang lain. Misalkan kita memikili kendaraan, tentu kita akan lebih memperhatikan kendaraan kita dari pada kendaraan orang lain. Jika kendaraan kita kotor karena hujan, langsung kita cuci dengan sepenuh hati. Namun ketika yang kotor itu kendaraan pinjaman, rasanya agak berat mencucikan kendaraan pinjaman tersebut.

Sama halnya dengan harta kita. Harta yang sekarang kita pegang seperti uang, mobil, rumah, tanah pekarangan, dll pada hakikatnya belum sepenuhnya milik kita. Karena ketika kita mati, kita tidak akan membawa harta tersebut. Setelah kita mati mobil, rumah, tanah pekarangan, dan harta-harta lainnya akan dimanfaatkan oleh ahli waris. Harta kita yang sesungguhnya adalah harta yang kita infaqkan di jalan Alloh swt. Sangat disayangkan jika kita sangat memperhatikan harta yang belum tentu milik kita, tetapi mengabaikan harta kita sendiri untuk kehidupan akhirat. Bukankah Alloh swt berfirman:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati…(Ali Imron: 185)

Tujuan kita beribadah adalah untuk mendapatkan ridho-Nya. Oleh karena itu, semua ibadah yang kita lakukan, hendaknya kita niatkan untuk Alloh swt. Alloh swt berfirman,

قُلْ إِنَّ صَلاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (١٦٢)

Katakanlah: Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.(Al An’am:162)

Ayat tersebut dapat kita pahami bahwa segala perbuatan yang kita lakukan hendaknya diniatkan karena Alloh swt.


Begitu pula berinfaq di jalan Alloh, hendaknya kita berinfaq hanya karena Alloh swt. Kita berinfaq karena memang infaq adalah kepentingan dan kebutuhan kita. Infaq merupakan harta kita yang sebenarnya yang nanti di akan berguna ketika di akhirat kelak. Jangan sampai kita bersedekah karena urusan duniawi. Saya sangat heran dengan statement seseorang pada sebuah jejaring sosial yang intinya mengatahan bahwa, “dia tidak lulus ujian karena kurang sedekah”. Kemudian di jejaring sosial yang sama, terdapat grup bernama “Gerakan Cinta Sedekah” dan dalam grup itu terdapat tulisan, “Lulus ujian nasional dengan nilai baik karena sedekah”.

Jika memang tujuannya ingin lulus ujian ya seharusnya ia belajar dengan tekun, bukan memperbanyak sedekah. Tidak ada gunanya sedekah banyak-banyak tapi tidak belajar sama sekali.

Di lain sisi, ada pula yang bersedekah dengan motivasi bahwa harta yang ia sedekahkan akan kembali berlipat ganda. Mungkin sebagian dari kita sudah tidak asing lagi dengan istilah kaya dengan shodaqoh. Sehingga motivasi dia bershodaqoh adalah agar cepat menjadi kaya. Betapa pendeknya rencana berpikir jika tujuan bershodaqoh hanya untuk kepentingan duniawi.

Kita tentu lebih mengutamakan hal-hal yang sudah pasti daripada yang tidak pasti. Kehidupan di akhirat adalah sebuah kepastian, kita semua pasti mati dan pasti akan menjalani kehidupan di akhirat.

Adapun lulus Ujian Nasional, itu belum pasti. Ingat, kematian sangatlah dekat, bahkan mungkin lebih dekat dari kita menjalani ujian nasional, diterima di universitas favorit, mendapatkan gelar sarjana, menjadi seorang insinyur atau dokter, memenangkan sebuah proyek, atau mimpi-mimpi dunia yang lainnya…

Karena kita tidak tahu kapan kita dipangil oleh Alloh swt, hendaknya apapun yang kita lakukan, kita niatkan karena Alloh swt untuk mencari ridho-Nya untuk mencari bekal kehidupan di akhirat kelak, termasuk dalam hal berinfaq.

 

Teknik Kimia dan EnergiDecember 26, 2011 4:30 am


 

Matahari sangat penting bagi kelangsungan kehidupan di bumi ini. Banyak sekali kegunaan matahari bagi kehudupan kita di bumi. Kita dapat memanfaatkan matahari untuk menjemur entah itu pakaian, gabah, kayu, atau yang lain. Matahari juga berfungsi untuk menghangatkan bumi. Tanpa matahari temperatur di bumi ini sangat rendah. Selain itu matahari juga berfungsi sebagai penerang ketika siang hari.

Jika kita telusur, sebagian besar energi yang berada di bumi ini berasal dari matahari. Matahari membantu proses fotosintesis pada tumbuhan. Tumbuhan menyerap CO2 dari udara dan mengambil air (H2O) serta zat-zat hara (N, P, K, Al, Si,dll) dari dalam tanah. Dengan bantuan sinar matahari, zat-zat tersebut dirubah menjadi zat pati (mengandung ikatan C dan H) dan oksigen (O2).

Oksigen dari tumbuhan dimanfaatkan untuk bernafas. Hasil buangan dari pernafasan adalah CO2 dan H2O. Nah CO2 ini akan diserap kembali oleh tanaman untuk proses fotosintesis berikutnya. Zat pati yang dihasilkan digunakan untuk pertumbuhan bagi tanaman tersebut. Semakin lama, tanaman tumbuh semakin besar dan akhirnya dapat menghasilkan buah.  Misalkan tanaman rumput, awalnya tanaman rumput berupa rumput kecil. Semakin lama tanaman rumput tumbuh semakin besar. Rumput yang besar itu dimakan oleh sapi. Dalam pencernaan sapi, rumput yang tadi dimakan itu direaksikan untuk diambil enrginya, dan sisanya dibuang sebagai tletong(kotoran sapi).  Hasil buangan kotoran sapi dapat dijadikan pupuk untuk menumbuhkan tanaman rumput kembali.

Bagian tanaman yang tidak bisa dimakan dapat digunakan untuk bahan bakar. Kayu dapat dugunakan untuk pembakaran. Sebagian dari kita masih menggunakan kayu untuk memasak. Setelah habis terbakar, kayu tersebut berubah menjadi abu. Abu hasil pembakaran mengandung zat hara. Zat hara tersebut nanti akan diserap kembali oleh tumbuhan dan direaksikan di klorofil dengan bantuan cahaya matahari dan menghasilkan tumbuhan berkayu. Kayu tersebut nantinya dapat kita bakar lagi dan menjadi abu lagi. Begitulah seterusnya.  

Dari dua contoh tersebut, dapat kita lihat bahwa CO2, H2O, dan zat hara lain ini hanya sebagai perantara agar energi dari matahari dapat kita gunakan.

Bahan bakar tumbuhan (disebut biomassa) pada saat ini mulai mendapatkan perhatian khusus. Sebenarnya tanpa sadar kita telah memanfaatkan bahan bakar biomassa. Misalnya, ketika kita camping, kita menggunakan kayu bakar untuk menyalakan api unggun. Kayu bakar yang kita gunakan bisa disebut dengan bahan bakar biomassa. Ketika kita ke pedesaan, terkadang kita masih melihat orang yang memasak dengan menggunakan kayu bakar. Orang tersebut hakikatnya menggunakan bahan bakar biomassa untuk memasak.

Pada saat ini teknologi biomassa terus dikembangkan. Diharapkan energi matahari yang selama ini hanya kita gunakan untuk transportasi melalui hewan sapi, kini sedang dikembangkan bagaimana energi yang terkandung dalam biomassa ini dapat digunakan untuk transportasi, tapi menggunakan kendaraan bermesin. Secara umum biomassa (bahan bakar padat) dapat dirubah menjadi bahan bakar cair melalui proses gasifikasi dan dilanjutkan dengan proses Fischer-Tropsch.

Teknik Kimia dan EnergiDecember 25, 2011 10:47 pm


Sasol South Africa

 

Jika pada zaman dahulu panen padi hanya dua kali dalam setahun, pada saat ini panen padi dituntut agar dapat menjadi tiga kali dalam setahun atau bahkan lebih dari itu. Tuntutan ini sangat wajar karena populasi manusia terus meningkat, dan manusia tentu membutuhkan manakan. Untuk mencapai target panen tersebut manusia mengembangkan teknologi pupuk. Akhirnya berdirilah pabrik pupuk. Pabrik pupuk ini membutuhkan bahan bakar untuk beroprasi.

Tidak cukup dengan makanan, manusia terus melakukan pengembangan teknologi sehingga dapat hidup semakin nyaman. Semakin berkembangnya teknologi, semakin banyak pula energi yang dibutuhkan. Dahulu kala, transportasi dilayani dengan kuda, atau hewan lain. Pada zaman sekarang, transportasi dilayani dengan kendaraan bermesin seperti mobil, kapal, dan pesawat. Jumlah kendaraan bermesin ini semakin lama semakin banyak sehingga kebutuhan bahan bakar penggerak mesin juga semakin meningkat.

Pada zaman sekarang energi merupakan kebutuhan primer. Tanpa energi kita tidak dapat melakukan aktivitas secara maksimal. Tidak ada bandar udara, stasiun, dan terminal yang beroprasi, tidak ada kendaraan yang berjalan, tidak ada listrik sehingga tidak ada, tidak ada penerangan, tidak ada koneksi internet, dan Anda tidak dapat membaca tulisan ini.. hehe..

Persediaan bahan bakar semakin sedikit. Batubara diperkirakan habis dalam kurun waktu 214 tahun lagi, adapun minyak bumi 38 tahun, dan gas alam 60 tahun. Kita dapat melihat pada saat ini hampir seluruh kendaraan menggunakan bahan bakar minyak. Jika teknologi pengolahan energi tidak berkembang, maka kurang dari 40 tahun lagi, tidak ada mobil, kapal, dan pesawat yang beroprasi. Pasokan listrik pun juga akan anjlog karena sebagian pembangkit listrik menggunakan diesel. Cadangan energi terbesar adalah batubara, sehingga diperlukan pengembangan teknologi agar batubara dapat menggantikan posisi minyak bumi dan gas alam.

Batubara adalah ikatan hidrokarbon (C dan H) rantai panjang. Ikatan C batubara mencapai ratusan. Sebagai contoh, batubara Bituminus memiliki rumus empiris C137H97O9NS. Dari rumus empiris tersebut dapat kita ketahui bahwa Bituminus memiliki ikatan C sebanyak 137. Ikatan C batubara jauh lebih banyak daripada solar (C16), ataupun bensin (C8). Melalui suatu proses, batubara dapat dikonversi menjadi bahan bakar cair mirip solar. Salah satu teknologi pengolahan batubara pada saat ini adalah dengan gasifikasi dan dilanjutkan dengan proses Fischer-Tropsch (F-T).

Batubara diproses dengan proses gasifikasi sehingga menghasilkan gas yang mengandung H2 dan CO atau disebut juga gas sistesis (syngas). Gas sintesis tersebut kemudian dikonversi menjadi bahan bakar cair melalui proses F-T. Proses konversi syngas menjadi bahan bakar cair dikenal dengan proses GTL (Gas to Liquid)

Di Afrika Selatan terdapat pabrik pengolah batubara sehingga menghasilkan bahan bakar cair. Pabrik ini bernama Sasol. Produk Sasol antara lain solar, kerosine (dapat digunakan untuk bahan bakar pesawat), pelumas, dan nafta.

Bahan bakar cair dari batu bara. Sasol. 


Proses F-T adalah konversi hidrogen (H2) dan karbon monoksida (CO) menjadi hidrokarbon (CnH2n+2).

(2n+1) H2 + n CO → CnH(2n+2) + n H2O

Hidrogen dan karbon monoksida ini dapat diperoleh dari proses gasifikasi. Umpan proses gasifikasi ini bisa dari batubara, maupun biomassa. Bahan bakar batubara dan biomassa dapat dirubah menjadi bahan bakar cair dengan penggabungan proses gasifikasi dan proses F-T.

 

 

Catatanku, PengalamanDecember 15, 2011 9:33 am

 

 

Kami terus melanjutkan pendakian.Ketika kami sampai di tempat yang agak luas–biasanya disebut pos bayangan- kami melihat satu tenda, di depan tenda tersebut ada bekas perapian untuk memasak. Di sana kami bertemu dengan dua pemuda dan satu pemudi. Kami mengobrol-ngobrol ringan, sekalian break. Dari obrolan, dapat disimpulkan mereka adalah siswa SMU. Setelah dirasa cukup, kami melanjutkan perjalanan. Sebelum melanjutkan perjalanan kami bersalaman –kecuali dengan ceweknya- dan kami diberi kue tart yang nyaris utuh. dapat suntikan logistik lagi… Namun suntikan logistik berupa kue tart ini cukup merepotkan karena besar dan rawan rusak. Karena merepotkan, kami membagiakan kue tersebut kepada pendaki lain yang kami temui.

 Alhamdulillah track pendakian gunung Slamet tidak begitu sulit, bahkan menurut saya pendakian gunung Slamet adalah pendakian yang paling nyaman. Track-nya tidak terlalu terjal, jalannya cukup lebar, dan tidak panas terkena terik matahari karena hutannya sangat lebat. Meskipun tetap ada juga track yang cukup menantang. Kadang kami harus merangkak atau merayap karena jalurnya mirip trowongan yang diatasnya terdapat akar-akar pohon. Di titik lain kami berhadapan dengan jalur yang mengharuskan kami memanjat akar pohon setinggi kira-kira 2 meter. Karena cukup tinggi, kami tidak mungkin memanjat dengan membawa carrier sehingga kami gantian manjatnya. Satu orang naik duluan dengan dibantu rekan yang lain, kemudian carrier dilempar ke atas. Setelah carrier di atas semua, kami manjat satu persatu.

Pada siang hari sekitar dhuhur kami sampai di pos 5. Sebelum ke puncak biasanya pendaki beristirahat di pos 5. Pos ini memang sangat cocok untuk istirahat dalam waktu yang lama, bahkan hingga bermalam. Yah karena di pos ini terdapat shelter, dan juga dekat dengan sumber air. Tingal jalan sekitar lima menit dari pos kita dapat mengambil air sepuas-puasnya.

Di pos ini kami istirahat dan berencana bermalam. Kami langsung masuk ke shelter dan menata barang  bawaan, alat masak, dan alas untuk istirahat. Begitu selesai menata, kami pergi ke sumber air. Sumber air berupa sungai, dan mata airnya terletak tidak jauh dari tempat kami mengambil air. Subhanalloh sungai tersebut airnya dingin sekali dan sangat jernih. Bisa langsung diminum. Di sumber air itulah kami mengambil air dan berwudhu. Hari semakin sore, langit menjadi gelap berawan tanda akan turun hujan. Benar saja, beberapa saat kemudian hujan turun. Betapa nikmatnya menikmati hujan di atas gunung. Awan tampak berada dibawah kita. Suasana begitu tenang dan damai. Kami menghabiskan waktu dengan ngobrol-ngobrol. Ketika kami beristirahat, datang kelompok pendaki lain. Mereka adalah mahasiswa dari Solo. Setelah mereka selesai mempersiapkan tempat istirahat, mereka ikut ngobrol dengan kita. Hari sudah malam. Hujan pun telah berhenti. Suasana malam di gunung sangat sepi, hanya ada suara dedaunan dan hewan-hewan kecil. Ditambah lagi tadi sore turun hujan. Suasana sangat tenang.

Malam semakin larut, kami istirahat di shelter. Kami harus segera istirahat karena sebelum matahari terbit kami sudah harus melanjutkan pendakian menuju puncak. Sebelum shubuh kami bangun. Setelah sholat shubuh kami mempersiapkan barang bawaan yang akan di bawa ke puncak.  Jarak dari pos lima ke puncak cukup dekat, sekitar 1-2 jam perjalanan. Meskipun jaraknya dekat, track-nya cukup sulit sehingga biasanya para pendaki ketika menuju puncak hanya membawa barang secukupnya seperti air dan makanan. Barang-barang lain ditinggal di pos 5.

Pendakian menuju puncak diawali dengan melewati semak belukar yang cukup tinggi. Tingginya bisa melebihi tinggi orang dewasa. Keluar dari semak belukar, kami melewati hutan yang sudah kering. Sepertinya baru saja terbakar. Keluar dari hutan, track yang menantang dimulai. Track menuju puncak berbatu dan batuannya rawan longsor. Ketika kami mendaki puncak, kami tidak dapat membuat barisan, karena batuannya rawan longsor. Jika beriringan maka orang yang berada di belakangnya akan terkena longsoran batu. Kami membuat jarak yang agak jauh ketika mendaki. Di tengah pendakian tiba-tiba dari belakang kami dikejar kabut. Lama-lama kami diselimuti oleh kabut yang cukup tebal. Jarak pandang tidak sampai 2 meter. Ketika kabut datang kami diperintahkan untuk berhenti sejenak. Jangan gugup ketika kabut datang. Tetap tenang. Setelah tenang, kami melanjutkan pendakian. Kami tidak dapat saling melihat satu sama lain karena tertutup kabut. Sesekali kami saling memanggil. Alhamdulillah kami sampai juga di puncak gunung Slamet. Puncak berupa bebatuan. Dibalik puncak tampak kawah sangat indah dan menantang untuk dijelajahi. Namun karena waktu yang mepet dan logistik kami terbatas kami mengurungkan niat untuk menyusuri kawah Slamet. Setelah berfoto dan beristirahat kami turun menuju pos 5.

(besambung insya Alloh)

 

UncategorizedDecember 4, 2011 3:27 pm


Pos 1 Gunung Slamet 

Pos 1 Gunung Slamet

 

Beberapa tahun yang lalu saya dan beberapa teman mendaki gunung Slamet. Pendakian itu merupakan pendakian teraneh yang pernah saya lakukan. Karena semuanya serba mendadak, tanpa persiapan maksimal. Memang sebelumnya kami pernah ngobrol-ngobrol ingin mendaki gunung Slamet pada waktu liburan akhir kelas 3 MTs. Namun obrolan tentang pendakian itu tidak terlalu saya gubris,  toh karena waktu itu kami sedang sibuk persiapan Ujian Nasional. Setelah menyelesaikan serangkaian ujian yang melelahkan dan pamungkasnya Ujian Nasional, akhirnya datanglah tanggal  27 Mei 2007. Itu adalah hari pertama kami libur. Libur untuk santri kelas 3 memang lebih awal dari santri-santri yang lain. Pagi hari itu ternyata ada gempa. Efek gempa terparah terdapat di daerah Jogja dan Klaten. Setelah gempa, ditengah jalan saya berpapasan dengan salah satu teman yang dulu pernah merencanakan Pendakian Slamet, dia mengajak saya mendaki Slamet. Ternyata obrolan pendakian Slamet itu bukan hanya sekedar obrolan. Saya berpikir sebentar dan akhirnya saya menerima ajakan tersebut. Saya ikut mendaki gunung Slamet. Padahal pada waktu itu saya tidak ada niatan sama sekali medaki gunung. Salah satu pertimbangan saya ikut pendakian Slamet ini adalah karena pada saat itu merupakan hari terakhir kami sebagai santri kelas 3 MTs. Saya merasa bahwa event ini tidak boleh terlewatkan. Barangkali diantara kami ada yang tidak melanjutkan studinya di pondok sehingga bisa jadi pendakian ini merupakan pendakian terakhir bagi kami bersama.

Setelah menerima ajakan, saya langsung mengemasi perlengkapan untuk mendaki gunung. Karena waktunya mepet saya hanya membawa perlengkapan seadanya yang gampang disiapkan. Saya hanya membawa carrier, jaket, sleeping bag, dan sarung. Pokoknya saya hanya membawa perlengkapan untuk menghangatkan badan. Saya lupa membawa kaus tangan dan kaus kaki, padahal dua barang tersebut juga penting untuk menghangatkan badan. Siang hari, sebelum dhuhur kami berangkat ke stasiun Jebres. Kami sepakat bertemu di sana dengan seorang pembimbing ekskul kami yang mana beliau ini sudah sangat mumpuni dalam hal petualangan alam.

Sesampainya di stasiun kami melihat hal yang tidak biasa. Pada kali ini stasiun tampak ramai sekali, banyak anak-anak muda berseliweran, ada pula yang bermain bola di antara jalur rel kereta. Setelah ditelusuri ternyata anak-anak muda tersebut adalah siswa-siswi dari salah satu Sekolah Menengah Atas di Surabaya. Mereka satu sekolahan menyewa satu rangkai kereta. Mereka awalnya hendak berlibur ke Jogja. Namun karena pada pagi harinya Jogja diguncang gempa, mereka tidak bisa melanjutkan perjalanan ke Jogja. Katanya jalur kereta di Jogja ada yang rusak. Mendengar berita itu kami sempat khawatir juga. Kami khawatir jika kereta yang menuju Purwokerto juga batal berangkat. Karena jalur kereta ke Porwokerto melewati kota Jogja. Setelah mencari informasi akhirnya kami lega karena kereta ke Purwokerto tetap jalan namun terjadi keterlambatan.

Alhamdulillah akhirnya kereta Logawa datang dan berangkat menuju Purwokerto. Kereta berjalan sangat lambat dan sering berhenti. Bahkan berhentinya itu sembarangan, kadang di stasiun, terkadang pula di tengah sawah. Katanya sih karena rel kereta sedang dalam perbaikan jadi harus gantian melewatinya.  Sepanjang jalan kami melihat efek gempa tadi pagi. Gempa yang mengguncang tadi pagi ternyata meninggalkan bekas yang sangat dahsyat. Dari kereta tampak hamparan sawah dan hamparan runtuhan puing rumah. Di tepian rel banyak berdiri tempat pengungsian darurat, ada yang menggunakan tenda dari kain atau terpal dan ada pula pengungsian yang tanpa atap sama sekali. Hanya tikar dan alat masak yang disusun. Atau bagi mereka yang memiliki truk,mereka menggunakan truck sebagai tempat berteduh. Mereka memasang terpal di atas bak truk untuk melindungi dari hujan dan sengatan matahari. Selain pemukiman, stasiun juga terkena dampak gempa. Hampir semua stasiun yang kami lewati sepanjang Solo-Jogja mengalamai kerusakan, ada yang hanya retak-retak ringan hingga rusak parah atau bahkan roboh hanya bersisa puing. Saya sempat heran ketika kereta berhenti di depan puing-puing. Ternyata puing-puing tersebut adalah reruntuhan salah satu stasiun kecil di daerah Klaten, saya lupa nama stasiunnya.

Hari semakin sore merambat ke malam. Cahaya matahari secara perlahan menghilang. Suasana menjadi gelap. Di samping rel tampak cahaya dari alat penerangan darurat dari tempat penungsian. Ketika kereta memasuki Jogja, suasana gelap gulita. Sepanjang jalan kami seakan-akan melihat kota mati yang gelap gulita. Aktivitas manusia hanya tampak ketika kereta melewati Bandara. Bandara tampak sangat terang. Ya karena Bandara memiliki genset sendiri. Karena listrik terputus, petugas kereta menggunakan senter berwarna untuk memberi isyarat kepada masinis. Selepas kota Kutoarjo kereta berjalan normal. Angin malam berhembus dari sela-sela jendela. Kami beristirahat hingga akhirnya sekitar pukul 23:00 kereta sampai di Stasiun Purwokerto.

Dari stasiun Purwokerto kami menuju basecamp Slamet dengan angkutan carteran. Setelah keluar dari wilayah kota, kami memasuki wilayah hutan yang sangat lebat. Perjalanan menuju basecamp cukup mengerikan. Jalan menuju basecamp sudah banyak yang rusak, di kanan kiri hanya tampak hutan yang lebat dan tidak ada penerangan sama sekali. Beberapa kali lampu mobil menyorot dua sosok manusia laki-laki dan perempuan mengobrol berduaan, dan di lain tempat ada yang hanya motornya saja. Pengendaranya entah ke mana. Hutan tersebut banyak memang banyak setannya. Mobil terus melaju melewati jalan yang rusak dan akhirnya kami sampai juga di basecamp Slamet. Begitu keluar mobil, brrr.. semilir angin gunung yang sangat dingin menusuk kulit.

Pengelola basecamp Slamet baik sekali. Meskipun kami datang tengah malam tetap disambut dengan ramah dan disuguhi teh panas dan camilan krupuk.  Sangat pas dengan kondisi saat itu yang sangat dingin. Di sana juga ada pendaki lain dari Jakarta.Setelah meletakkan perlengkapan kami ikut gabung dengan rombongan dari Jakarta tersebut. Meskipun baru pertama kali bertemu, suasana langsung akrab. Begitulah yang terjadi pada sesama pendaki gunung. Meskipun tidak saling kenal, namun selalu saja langsung akrab dan hangat. Kami mengobrol banyak, bercerita banyak. Mereka bercerita bahwa mereka ini adalah pendaki dari Jakarta. Rencananya mereka mau balik pada hari itu, namun ada satu teman mereka yang sakit dan tidak kuat lagi melanjutkan perjalanan turun ke basecamp. Jadi teman yang sakit masih di pos 2 (kalau tdk salah ingat) bersama dua temannya. Mereka ini turun terlebih dahulu membawa perlengkapan dan keesokan harinya mereka akan kembali naik menjemput teman mereka yang sakit. Malam semakin larut, saya permisi dan merebahkan diri untuk tidur.

Pagi hari setelah sholat shubuh kami masih bersantai, mempersiapkan barang yang akan dibawa mendaki. Ketika kami siap-siap pendaki dari Jakarta tersebut sudah siap dan pamit mendaki duluan. Sekitar pukil tujuh pagi, setelah sarapan dan semua pelengkapan siap, kami melapor kepada petugas basecamp. Jalanan kampung kami susuri hingga habis dan dilanjutkan jalan setapak pada perkebunan. Setelah berjalan agak lama akhirnya kami sampai juga di hutan. Sepanjang jalan kami berpapasan dengan beberapa penduduk kampung dan saling menyapa dengan tersenyum. Memang seperti itulah kebiasaan ketika pendakian. Menyapa semua orang yang kita temui dengan tersenyum.

Pendakian waktu itu kami hanya berbekal sedikit mie instant dan sedikit air. Kami berenam hanya membawa satu drigen satu literan dan itupun hanya terisi sekitar seperenamnya. Kami hanya membawa air sangat sedikit sekali. Jadi sepanjang perjalanan kami harus sangat berhemat untuk masalah air minum ini. Kami baru akan bertemu dengan sumber air di pos lima.

Begitu memasuki hutan, saya merasa rute pendakian gunung Slamet sangat nyaman. Track tidak terlalu terjal, jalan setapak dari tanah yang basah dan empuk, dan hutan yang sangat lebat, bahkan cahaya matahari pun sangat jarang yang bisa menyentuh tanah. Sepanjang perjalanan kami mengobrol. Terkadang kami break sejenak untuk melonggarkan otot-otot badan. Tidak lama sebelum pos dua kami bertemu dengan pendaki dari Jakarta yang tadi. Ia beserta rombongan temannya yang sakit. Kami mengobrol sebentar. Mereka memberikan pasokan logistiknya ke kami. Karena jarak ke basecamp sudah tidak terlalu jauh dan logistik mereka masih banyak. Mereka khawatir kalau makanan tersebut mubazir. Alhamdulillah.. kami medapatkan suntikan logistik. Kami sangat senang karena logistik yang kami bawa waktu itu sangat sedikit. Maklum lah karena pendakian ini serba mendadak.

Selama pendakian terkadang kami bertemu dengan pendaki yang hendak turun. Ketika berpapasan kami saling menebar senyum dan bersalaman, terkadang dilanjutkan dengan pelukan. Yah memang seperti itulah di gunung. Meskipun tidak saling kenal, antar kelompok pendaki serasa saudara, sangat mudah akrab. Kami terus berjalan menyusuri jalan setapak pendakian Slamet. Ketika berpapasan dengan pendaki yang turun, kami juga memberitahu mereka bahwa kemarin Jogja diguncang gempa. Waktu itu ada rombongan pendaki dari Jogja dan mereka baru tau kalau di Jogja diguncang gempa. Mungkin karena khawatir akan keadaan Jogja mereka semakin bergegas turun menuju basecamp.

(bersambung insya Alloh…)

Catatanku, PengalamanNovember 27, 2011 3:05 pm

 

Pada waktu itu saya berencana pergi ke Bandung karena ada acara di Bandung. Karena acara tersebut seharian penuh, dan cukup melelahkan saya berencana untuk berangkat dua hari sebelum hari H sehingga sehari sebelum hari H saya bisa istirahat mempersiapkan untuk keesokan harinya. Karena acaranya cukup melelahkan. Pada saat itu semua rencana telah disusun matang. Namun ternyata semua rencana berubah. Ternyata sehari sebelum hari H rekan saya ada keperluan yang tidak bisa ditinggal sehingga yang awalnya kami berangkat dua hari sebelum hari H, kami bisanya berangkat sehari sebelum hari H. Buyarlah rencana yang telah kami susun. Dan dengan terpaksa kami menginap di bus dan keesokan harinya langsung mengikuti acara.

Rencana saya setelah acara tersebut selesai, saya tidak langsung balik ke Solo, namun akan menginap sehari di Bandung, dan keesokan harinya menghadiri acara bedah buku. Namun lagi-lagi Alloh swt berkehendak lain, ada suatu hal yang akhirnya saya setelah acara tersebut langsung balik ke Solo, tanpa menginap di Bandung, dan batal mengikuti acara bedah buku.

Cerita tersebut hanya secuil contoh dari kehidupan kita. Diantara kita pasti terkadang menjumpai kejadian seperti itu. Di saat kita sudah merencanakan segala sesuatu dengan matang, tiba-tiba ada suatu hal yang  dapat merubah rencana kita dan itu tidak bisa dielakkan sehingga apa yang telah kita rencanakan tidak terlaksana. Oleh karena itu muncul istilah di tengah-tengah kita “manusia hanya bisa berencana, Alloh swt yang menentukan.”

Ada hal yang terkadang luput dari perhatian kita. Terkadang kita menjumpai seseorang yang akan melakukan sesuatu dengan sangat yakin bahkan disertai embel-embel “pasti” tapi melupakan kata “insya Alloh”. Misalkan dia berencana betemu dengan seseorang besok hari dia suatu tempat, dia mengatakan,”Oke, saya besok pasti datang.” Tanpa menyertakan kata “insya Alloh (jika Alloh menghendaki)”. Ketika kita telah mengetahui bahwa Alloh swt lah yang memiliki wewenang, terkesan sungguh angkuh jika tidak mengatakan “insya Alloh”.

Dalam surat Al Kahfi ayat 23-24 Alloh swt berfiman:

وَلا تَقُولَنَّ لِشَيْءٍ إِنِّي فَاعِلٌ ذَلِكَ غَدًا (٢٣)إِلا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ …..٢٤

Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu: "Sesungguhnya aku akan mengerjakan ini besok pagi(23) kecuali (dengan menyebut): "Insya Allah"….(24)

Sebab ayat ini turun, adalah kisah teguran kepada Rasululloh saw. Menurut riwayat, ada beberapa orang Quraisy bertanya kepada Nabi Muhammad saw. tentang roh, kisah ashhabul kahfi (penghuni gua) dan kisah Dzulqarnain lalu beliau menjawab, datanglah besok pagi kepadaku agar aku ceritakan dan beliau tidak mengucapkan insya Allah (artinya jika Allah menghendaki). Tapi kiranya sampai besok harinya wahyu terlambat datang untuk menceritakan hal-hal tersebut dan Nabi tidak dapat menjawabnya. Maka turunlah ayat 23-24 di atas, sebagai pelajaran kepada Nabi; Allah mengingatkan pula bilamana Nabi lupa menyebut insya Allah haruslah segera menyebutkannya kemudian.

Namun sangat disayangkan, terkadang kalimat insya Alloh ini disalah gunakan. Kalimat ini digunakan untuk menolak atau mengelak secara halus. Padahal itu sangat bertentangan dengan esensi kalimat insya Alloh. Pengucapan insya Alloh itu menunjukkan bahwa kita sangat ingin melaksanakan hal tersebut. Insya Alloh bisa dikatakan merupakan janji seorang muslim. Ketika seorang muslim sudah mengatakan insya Alloh berarti ia akan berusaha secara maksimal untuk melaksanakannya.

So, mari kita mulai untuk mengucapkan insya Alloh ketika merencanakan sesuatu…

Surakarta, 27 November 2011

Pukul 07:28 WIB

CatatankuNovember 21, 2011 4:18 pm


Setiap orang pasti memiliki cita-cita dan keinginan yang tinggi. Kalau kita bertanya ke anak kecil tentang cita-cita mereka, biasanya kita akan mendapatkan jawaban ingin menjadi dokter, insinyur, pilot, atau yang lainnya. Pun hingga anak kecil tersebut telah  tumbuh menjadi remaja, mereka selalu mengejar cita-citanya. Pada saat kita mejadi semakin dewasa kita semakin menyadari bahwa ternyata untuk meraih cita-cita yang kita inginkan tidaklah semudah mengucapkannya. Ternyata untuk menggapai cita-cita tersebut kita harus banyak berkorban. Tidak sedikit anak-anak sekolahan yang berangkat dari rumah pagi hari dan selesai sekolah mereka tidak langsung pulang ke rumah, namun harus mengikuti kursus atau bimbingan belajar hingga sore atau bahkan malam hari. Di rumah pun tidak bisa langsung istirahat, masih ada tugas-tugas sekolah yang menunggu untuk di kerjakan.

Betapa giatnya mereka mengejar cita-cita duniawi padahal pada kenyatannya belum tentu apa yang mereka usahakan tersebut membuahkan hasil seperti yang diinginkan. Beberapa orang ada yang profesinya saat ini berbeda dengan apa yang ia cita-citakan sebelumnya. Misalnya ada seseorang yang sangat bercita-cita menjadi dokter, kedua orang tuanya dokter, namun ternyata seiring perjalanan hidupnya ia menjadi seorang pilot. Mungkin diantara kita -terutama yang masih muda- ada yang khawatir tentang masa depan. Takut jika masa depannya tidak sesuai dengan apa yang diharapkan, takut menjadi orang tidak berada yang hanya tinggal di pojokan kota, takut tidak mendapatkan pasangan hidup yang sangat  ia cintai, atau kekhawatiran-kekhawatiran lain tentang masa depan. Menurut saya rasa khawatir tersebut wajar. Namun perlu diingat jangan sampai rasa khawatir tersebut membutakan kita sehingga kita tidak bisa melihat cita-cita kita yang sebenarnya. Cita-cita yang sebenarnya bagi seorang muslim adalah mendapatkan ridho Alloh swt sehingga memperoleh surga-Nya.

Dalam menjalani kehidupan ini hendaknya selalu kita niatkan untuk Alloh swt. Sebagai seorang pelajar hendaknya meniatkan belajarnya karena Alloh swt, bukan karena ingin mendapatkan suatu kedudukan atau profesi demi sebuah martabat, kedudukan sosial, atau kemuliaan dunia semata. Sangat rugi jika kita belajar hanya untuk mengejar dunia. Ingatkah kita bahwa jika ada kehidupan pasti ada kematian. Kematian merupakan sebuah kepastian dan itu rahasia Alloh swt. Kematian itu sangat dekat, bahkan bisa lebih dekat dari kemungkinan kita mencapai apa yang kita cita-citakan, misalnya medapatkan gelar sarjana, menjadi dokter, insinyur, atau menikah dengan orang yang sangat ia cintai. Jika seseorang belajar semata-mata karena tujuan dunia, dan ternyata umurnya sudah habis terlebih dahulu, maka alangkah ruginya ia.

Semua ilmu di dunia ini merupakan ilmu Alloh swt. Kita sebagai manusia diberi amanah oleh Alloh swt untuk mengolah alam ini dengan sebaik-baiknya sehingga kita dapat hidup lebih nyaman dan kita bisa beribadah dengan lebih maksimal. Meskipun mengolah alam tersebut sudah merupakan amal baik. Dengan mengolah alam kita dapat membantu kehidupan kita dan orang lain. Bukankah membantu urusan orang lain merupakan ibadah? Misalkan ada seseorang yang  memiliki ilmu merancang sebuah pabrik. Ia merancang pabrik semen untuk kemaslahatan manusia. Jika ia hanya berniat untuk mencari keuntungan maka ia hanya akan mendapatkan keuntungan di dunia. Namun jika ia ikhlas maka ia akan mendapatkan dua keutamaan, yakni keuntungan di dunia dan imbalan di akhirat kelak.

Misalkan kita sudah mendapatkan apa yang kita impikan, katakanlah kita sudah menjadi insinyur, dan telah menikahi orang yang kita cintai. What’s the next?? Membangun keluarga, mendidik anak-anak untuk menjadi penerus generasi yang menjunjung tinggi agama Islam. Mendidik anak-anak dan membekalinya dengan ilmu agama. Menjadi orang tua yang dapat dijadikan teladan bagi anak-anak. Tentu itu semua memerlukan proses, ilmu, dan pengalaman yang panjang dan tidak mudah.  

Untuk meraih ridho Alloh swt, alangkah baiknya jika kita juga mengerjakan ibadah-ibadah sunnah lainnya. Banyak sekali ibadah sunnah yang dapat kita laksanakan, dan semuanya itu mudah dan gratis. Misalnya sholat ba’diyah dan qobliyah, sholat tahajjud, sholat dhuha, puasa Senin-Kamis, dan masih banyak lagi. Selain menambah pahala, ibadah sunnah juga dapat menjadikan hati menjadi tenang. Betapa nikmatnya jika kita hidup dengan suasana hati yang tenang.

Intinya, mari kita lakukan semuanya demi mengejar cita-cita utama di akhirat. Kematian adalah kepastian, buat apa berusaha merubah hal yang sudah pasti? Yang bisa kita lakukan terus melakukan yang  terbaik untuk mempersiapkan kehidupan di akhirat nanti…

 

PengalamanNovember 20, 2011 2:53 pm


 

Pernah suatu saat, ketika saya akan pergi ke Surabaya, karena saya menginginkan sampai Surabaya pada pagi hari, maka saya berangkat dari Solo malam hari. Saya berangkat  sekitar pukul 1 pagi. Biasanya saya naik Bus EKA. Bahkan karena saya biasa berangkat ke Surabaya pada waktu tersebut (yakni Kamis malam), pernah beberapa kali saya bertemu dengan kru bus yang sama. Ternyata pemandangan pada malam hari menyuguhkan sesuatu yang berbeda. Ketika saya melewati depan kampus UMS, pada siang hari ramai oleh para mahasiswa yang berseliweran. Pada malam hari tampak sepi. Terlebih setelah diguyur hujan deras dan menyisakan rintik-rintik hujan pada malam itu. Hanya ada beberapa orang yang lewat dan satpam UMS yang bercengkrama. Yang cukup menyita perhatian saya adalah ada seseorang yang berjualan kacang rebus pada tengah malam. Padahal kondisi saat itu sangat sepi, tidak ada satu pun orang yang lewat. Mungkin karena habis diguyur hujan sehingga orang-orang lebih memilih menikmati malam yang damai di tempat tinggal masing-masing. Setelah menunggu beberapa saat di perempatan UMS, datanglah bus EKA. Saya langsung naik dan mencari tempat duduk di dekat kaca. Tempat duduk di dekat kaca adalah tempat favorit saya kalau naik bus. Kemudian sampailah bus di terminal tirtonadi dan ngetem (menunggu) di Tirtonadi selama yah kurang lebih seperempat jam.

 

Selama bus ngetem saya melihat-lihat ke luar bus. Suasana terminal memang cukup lengang, hanya ada beberapa orang. Maklum waktu sudah menunjukkan malam sudah sangat larut. Di tengah kelengangan terminal tirtonadi, saya melihat beberapa penjual asongan terminal. Meskipun malam telah larut, mereka tidak menggunakan waktu tersebut untuk beristirahat sebagaimana umumnya manusia.  Pernah suatu kesempatan saya melihat penjual asongan yang sudah berumur tua. Pikir saya, kenapa beliau yang sudah tua masih harus bekerja membanting tulang, merelakan waktu istirahatnya untuk mencari nafkah.

Di lain kesempatan, ketika saya pergi dan melewati jalan raya. Pernah suatu ketika jalan agak macet. Ternyata di depan ada seorang bapak-bapak menarik becak yang penuh dengan muatan karung beras 25 kg-an. Karena saking beratnya beban beliau hanya bisa mengayuh becaknya sedikit-sedikit, tidak bisa penuh satu putaran kayuhan.

Dan masih banyak lagi fenomena yang menunjukkan bahwa mencari nafkah itu membutuhkan usaha ekstra.. Saya yakin Anda pasti pernah melihat hal yang serupa. Atau mungkin hanya melihat tanpa memperhatikannya. Sebenarnya jika kita memperhatikannya, hal tersebut dapat menjadi sarana bagi kita untuk tambah bersyukur kepada Alloh swt, tidak mudah mengeluh, dan mengadu yang buruk kepada Alloh swt.

انظروا إلى من هو أسفل منكم ولا تنظروا إلى من هو فوقكم ، فهو أجدر أن لا تزدروا نعمة الله عليكم

Pandanglah orang yang berada di bawahmu (dalam masalah harta dan dunia) dan janganlah engkau pandang orang yang berada di atasmu (dalam masalah ini). Dengan demikian, hal itu akan membuatmu tidak meremehkan nikmat Allah padamu.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Kantor Assalaam, 8 April 2011

CatatankuNovember 19, 2011 1:02 am

 

Sebagian orang ada yang memiliki hobi mendaki gunung. Mendaki gunung bagi sebagian orang merupakan kegiatan menyenangkan. Mungkin beberapa orang berpikiran bahwa mendaki gunung itu seperti memanjat tebing yang tinggi, berbatu-batu, dan penuh tantangan. Anggapan seperti itu tidak sepenuhnya benar. Mendaki gunung itu ya seperti berjalan pada jalan setapak yang naik. Memang terkadang dijumpai track yang cukup ekstrim, perlu memanjat bebatuan, pohon-pohonan, ataupun akar.

Pendakian gunung memerlukan modal yang tidak sedikit, baik itu modal materi maupun modal non materi. Sudah barang tentu equipment pendakian gunung cukup mahal. Tapi menurut saya harga mahal tesebut sesuai dengan kualitasnya. Selain modal materi, modal non materi juga sangat diperlukan. Modal non materi misalnya adalah kesungguhan dan kesabaran. Pendakian gunung bukanlah kegiatan biasa. Pendakian gunung menurut saya merupakan kegiatan yang menyenangkan, bermanfaat, tapi juga penuh risiko dan berat.

Di gunung tidak ada yang jual makanan, minuman, atau kebutuhan logistik lainnya. Semua kebutuhan logistic dibawa sendiri dari basecamp. Ketika itu sangat terasa bahwa uang itu tidak ada gunanya. So biasanya dompet ditinggal di basecamp. Daripada hilang di gunung.. toh juga ketika mendaki gunung uang  tidak terpakai, apalagi SIM, dan STNK..di gunung dijamin g ada cegatan polisi…hehe..

Dengan kendaki gunung kita dapat melihat sifat asli seseorang. Belum tentu orang yang kesehariannya baik, ramah, suka menolong, ketika mendaki gunung ia tetap sebaik itu. Mendaki gunung sangatlah berat, capek, ditambah lagi kondisi suhu yang sangat dingin. Dalam kondisi capek, lapar, kedinginan, pokoknya serba tidak enak, biasanya disitulah muncul kepribadian yang asli, biasanya selalu mendahulukan kepentingannya sendiri, muncullah egonya. Hanya persahabatan dan persaudaraan lah yang dapat mengalahkan ego tersebut. Terkadang ketika mendaki gunung ada teman yang sakit, kita mesti membantu teman kita tersebut. Meskipun kita sangat capek, kedinginan, kita mesti harus menolong teman kiat tersebut. Mendaki gunung dapat mempererat rasa persaudaraan dan persahabatan.

Rute perjalanan gunung berupa hutan lebat dapat mengingatkan kita kepada kebesaran Alloh swt. Berjalan menyusuri jalan setapak yang penuh rimbunan pohon dan semak, di salah satu sisinya ada tebing nan tinggi dan besar, serta di sisi lain jurang nan dalam. Ketika mendaki gunung seakan-akan hanya kita satu tim yang berada di bumi ini. Suasana sangat sepi, lengang, hanya ada suara pepohonan dan hewan-hewan hutan. Kadang kami dikagetkan oleh tingkah hewan hutan yang tiba-tiba nyelonong. Pernah ketika saya mendaki gunung Slamet kami dikagetkan oleh kehadiran babi hutan, dan sesekali  dengan samar terdengar suara harimau. Padahal mendaki gunung kami tidak membawa senjata, paling-paling hanya pisau lipat untuk memasak. Nah kalau sudah seperti ini, sangat terasa bahwa kita ini merupakan makhluq yang lemah, kita hanya bisa pasrah kepada Alloh swt.. subhanalloh.. Allohu Akbar…

Biasanya rute ketika sudah mendekati puncak agak terjal dengan rute-rute sebelumnya. Pernah suatu saat saya mendaki gunung merapi, ketika setelah pasar Setan (Pasar Bubrah) saya dan beberapa kawan salah mengambil jalur. Ketika menuju puncak merapi kita tidak bisa berjalan secara beriringan sebab medannya berbatu, dan batu-batu tersebut rawan longsor ketika diinjak. Jika beriringan, orang yang dibelakang bisa kena longsoran batu tersebut. Nah.. karena tidak beriringan, saya dan beberapa teman mengambil jalur yang salah, jalurnya lebih terjal dan sempit, mepet dengan tebing. Ketika menengok ke kiri terlihat jelas pasar bubrah. Pada jalur yang kami lewati tersebut ternyata ada jalur yang terpotong, sehingga kami harus melompat. Ketika mau melompat saya agak takut, karena kalau tidak pas, bisa terpleset masuk jurang. Ketika saya melompat, ternyata tas saya terjepit batu sehingga lompatan saya agak berkurang, tapi Alhamdulillah nyampai juga di sebrang. Jantung saya langsung berdesir kencang.. alhamdulillah.. kalau tidak sampai sebrang saya jatuh ke jurang. Ada juga yang bebatuannya sangat tinggi sehingga tongkat yang kami bawa kami susun untuk panjatan.. Alhamdulillah waktu itu kami membawa tongkat, padahal biasanya males bawa tongkat waktu mendaki gunung.. Allohu akbar.. banyak sekali pertolongan Alloh swt ketika mendaki gunung.

Kepayahan ketika mendaki gunung serasa terbayar ketika sudah sampai puncak. Subhanalloh, kita dapat menyaksikan pemandangan yang sangat indah. Sebuah karya ciptaan Alloh swt. Lukisan langit nan indah, ukiran daratan nan cantik. Memang sebuah kenikmatan memerlukan  usaha untuk mencapainya…  

 

Kadang ketika mendaki gunung, di dalam hati terbesit rasa kapok mendaki gungung. Ngapain malam-malam mesti capek-capek jalan kaki, kedinginan, kebasahan? Lebih enak di kamar, bisa tidur di atas kasur dan hangat. Tapi biasanya kekapokan tersebut hanya sementara. Ketika rasa capek sudah hilang, ada keinginan untuk mendaki gunung lagi. Kalau saya ya karena banyak manfaatnya dan menambah pengalaman yang insya Alloh suatu saat nantinya bisa jadi bahan cerita untuk anak-anak… :D